Selasa, 24 Mei 2011

Dibawah Bayangan Merapi

Yogyakarta


Merapi selalu memiliki kisah sendiri, yang menjadi bagian dari sejarah nusantara. Ada keanggunan di sana, juga bara yang menggelegak, menunggu waktu untuk selalu membuat sejarah baru lagi. Apakah memang benar-benar sejarah baru? sebagaian orang akan berkata tidak. Sebagian percaya bahwa sejarah itu merupakan proses perulangan. Bahwa apa yang terjadi di hari ini sesungguhnya telah terjadi di masa lampau, ribuan atau jutaan tahun lalu.


Salah satu yang merekam sejarah Merapi adalah Candi Borobudur. Sebuah candi yang didirikan Wangsa Syailendra pada tahun 800an Masehi. Candi yang bernama lain Sambharabuddara ini porak poranda dan pernah terkubur oleh material vulkanik Gunung Merapi. Letusan tahun 1006 yang disebut sebagai Maha Pralaya itu juga diyakini menjadi pemicu berpindahnya kerajaan Mataram Hindu ke Tlatah Jombang, Jawa Timur. Setelah dihantam banjir bandang Sungai Brantas, kerajaan ini kembali berpindah ke daerah Malang yang kelak menjadi cikal bakal kerajaan Singosari.








Tidak ada yang tahu pasti apakah yang dipercaya sebagian orang itu kenyataan atau hanya sekedar mitos. Berbahagialah bagi mereka yang percaya bahwa Merapi akan selalu mengulang sejarah, setidaknya kepercayaan itu akan memupuk rasa hormat manusia kepada Merapi. Selanjutnya menimbulkan kesadaran bahwa manusia selalu hidup berdampingan dengan Merapi yang anggun namun menyimpan potensi bencana. Mari membangun harapan, kelak ketika Merapi bergolak, tidak ada lagi korban jiwa. Salam....


Senin, 23 Mei 2011

Ini Budaya Kami

Yogyakarta,

Malam baru saja melingkupi kota. Sekelompok anak berjalan ceria menuju sebuah lokasi pertunjukkan. Sambil bersendau gurau mereka segera menuju ke bangku penonton. Arena pertunjukkan itu bukanlah sebuah gedung mewah, hanya ada panggung beratap langit dan kursi panjang berderet yang telah dipenuhi orang. sebagian besar adalah turis mancanegara. Saya yang tengah duduk di deret bangku ketiga hampir saja tidak menyadari keberadaan anak-anak ini.


Pertunjukan baru saja dimulai. Sendratari Ramayana yang telah sekian ratus tahun dipentaskan berulangkali. Rasa penasaran saya tergelitik ketika mendengar sekelompok anak kecil tadi berdiskusi kecil tentang peran apa yang nanti akan mereka lakoni. Hmm...ruapanya mereka bagian dari pertunjukan itu. Ketika mereka beranjak dari tempat duduk segera saya mengikuti mereka, berjalan ke balik panggung. Singkat waktu, anak-anak tadi telah berganti kostum dan segera menarikan pena rias di wajah mereka, saya pun tersenyum.


Sepasukan kera yang dipimpin Hanuman segera menyerbu panggung. Memporak porandakan barisan pertahanan pasukan Rahwana. Pertempuran itu singkat saja. Seperti biasa, dalam dunia dongeng kebaikan selalu menang atas kejahatan. begitu juga malam itu. Begitu pertempuran usai, ceremonial perjumpaan abdi dan penguasa selalu tak luput untuk dipertontonkan, tentu saja dalam hal ini adalah Rama yang telah mendapatkan Shinta. Hanuman dan pasukan keranya duduk di lantai, menghamba.

Menjelang tengah malam usai sudah pertunjukkan itu. Riuh tepuk sorak penonton mengiringi pemain yang undur satu persatu. Sekelompok kera kecil tidak kembali ke belakang panggung. Mereka berjalan menghampiri penonton mancanegara yang segera berebut mengajak mereka berpose di depan kamera. Kecerian pecah, tak segan turis mancanegara itu menjabat erat tangan kera-kera kecil itu dan menunjukkan ekspresi kekaguman spontannya.
"Thanks you mister....thanks for your coming," ucap mereka hampir bersamaan. Saya pun dalam hati ikut berkata "Terimakasih tuan-tuan dan nyonya, telah mengapresiasi budaya kami".

Petani Dieng

Wonosobo, 2011

Keindahan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo menjadi lengkap dengan kehadiran manusia pekerja keras, petani. Ya...bertani di dataran tinggi yang dianugerahi tanah subur tidak jauh beda dengan bertani di lokasi lain. Butuh ketekunan, keuletan dan kesabaran. Namun ternyata itu belum cukup....hasil bagus secara berkesinambungan membutuhkan pengetahuan bercocok tanam dan kearifan. Petani Dieng mengandalkan perhitungan musim yang dipercayai secara turun temurun. Jangan berharap menemukan penggunaan pupuk kimia di daerah ini. Masyarakat petani percaya, menggunakan pupuk dan obat-obatan organik akan menjaga kesuburan dan kualitas tanah pertanian.


Salah satu andalan hasil pertanian di Dataran Tinggi Dieng adalah kentang. Dalam setahun petani bisa menuai dua hingga tiga kali hasil tanam. Proses memanen hasil pertanian tidak hanya dilakukan petani si empunya tanaman. Mereka masih memegang erat tradisi gotong royong. Petani saling membantu satu sama lain untuk memanen hasil tanamnya.


Berpuluh tahun, rupanya kerja keras yang dilakukan petani tak juga mengangkat derajat hidup mereka selama ini. Tentu saja mereka tidak pernah tahu jika hasil tanam mereka akan dihargai tiga hingga empat kali lipat dari harga awal ketika produk mereka dibeli pertama kali. Mereka juga tidak pernah tahu jika tanah yang selama ini menghidupi anak cucu mereka, suatu saat dengan sangat mudah berpindah tangan ke tangan para investor. Merubah lahan hijau yang produktif menjadi hunian-hunian kaum kaya atau dijadikan lokasi industri.


"Hahahaha....ah itu biarlah orang-orang pinter yang memikirkannya nak, kami hanya mengerti inilah tanah kami yang harus kami pelihara dengan baik. Berbuat baik kepada bumi akan memberi makan anak cucu kami" tutur perempuan tua itu dengan berbinar, melihat hasil panen kentangnya cukup melimpah.

Minggu, 22 Mei 2011

Selamatkah Goa Lowo?

Pati - 2010



Goa ini sementara merupakan goa dengan lorong terbesar di kawasan Karst Sukolilo. Namun belum cukup besar untuk mengalahkan Goa Soon Doong di Vietnam. Tempo hari Goa Lowo nyaris menjadi lokasi santapan industri semen. Syukurlah...semua telah lewat, namun bukan berarti berakhir. Masih terngiang ucapan salah satu petinggi Asosiasi Semen Indonesia di telinga saya "Sampai kapan pun, Sukolilo akan tetap menjadi incaran kami, kita lihat saja nanti...."

Goa Lowo merupakan goa hunian kelelawar pemakan serangga. Diyakini, komunitas kelelawar inilah yang selama ini menjaga areal pertanian di wilayah selatan Kabupaten Pati. Lepas dari ancaman industri semen, Goa Lowo belum lepas dari ancaman pemburu kelelawar dan petambang fosfat. Beberapa goa lain di kawasan ini juga mengalami ancaman serupa. Rupanya melindungi sebuah bentuk kehidupan membutuhkan energi yang besar. Semoga energi itu tidak pernah habis....

In this picture : Fredy Chandra Ahmadi, Moch. Tahan

Berwisata Ke Goa Cerme

Yogyakarta - 2009



Berwisata bisa membuat kita lebih rileks. Apalagi jika kita disuguhi pemandangan indah yang tidak biasa. Jika anda tertarik, anda bisa mengunjungi Goa Cerme di Imogiri, Bantul. Bagi sebagian masyarakat Goa Cerme dipercaya sebagai salah satu tempat keramat. Konon goa ini selain menjadi lokasi bermusyawarah Wali Songo, juga menjadi salah satu basis pertahanan Pangeran Diponegoro ketika mengobarkan peperangan melawan VOC.

Ornamen di Goa Cerme tergolong lengkap dan masuk kategori indah dalam kamus saya. Sayang, di beberapa bagian lorong goa kita masih saja mendapati ceceran sampah pengunjung, seperti sandal jepit yang putus atau botol-botol bekas air mineral.


Goa Cerme memiliki lorong dengan aliran sungai bawah tanah, tidak deras namun cukup dalam di beberapa bagian. Pengunjung harus siap berbasah ria dan sedikit belepotan lumpur.

Perlengkapan yang harus kita bawa untuk menelusuri goa ini adalah : helm, lampu penerangan (plus cadangan baterei), sepatu (yang menutupi mata kaki), pakaian ganti, obat-obatan pribadi, boleh jga dilengkapi makanan ringan dan minuman hangat. Agar lebih tenang, anda bisa menggunakan jasa pemandu lokal. Selamat berwisata...!!!

1st Picture 
In this picture : Akhmad Zona & My Self
Photography Support : Acintyacunyata Speleological Club

2nd Picture
In this picture : My Self

Goa Seropan Di Ujung Nasib

Yogyakarta - 2003


Air menjadi satu alasan dasar sebuah planet memiliki suatu bentuk kehidupan, termasuk bumi. Air juga yang telah membuat saya akhirnya memilih bergabung dengan kelompok penelusur goa Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta.

Di kawasan karst, mendapatkan sumber air baku tidaklah mudah. kondisi geologi membuat air tersimpan di kedalaman perut bumi. Mengalir sebagai sungai bawah permukaan. Salah satunya membentuk air terjun di dalam Goa Seropan.



Melalui upaya pemompaan, sungai bawah tanah Goa Seropan setidaknya mampu mencukupi kebutuhan air baku hingga 45.000 ribu jiwa. Sayang, proyek yang dimulai tahun 1999 ini tidak dibarengi dengan upaya perlindungan daerah tangkapan air di permukaan. Penambangan marak di sekitar lokasi yang ditengarai sebagai daerah tangkapan air sungai Goa Seropan.

Barangkali kelak jika semua sudah sadar debit sungai Goa Seropan menyusut, tindakan perlindungan baru akan dimulai....semoga saja tidak.

In this picture : M. Apriyanto
Photography Team : Acintyacunyata Speleological Club